Friday, April 4, 2014

PENDIDIKAN BUKAN MESIN FOTO COPY (EDUCATION NOT PHOTOCOPY MACHINE)


Berkesempatan menjadi guru adalah sebuah anugerah. Melihat setiap anak tumbuh dan berkembang bersama potensi yang dimilikinya, merupakan kesempatan yang indah.
Saya banyak belajar tentang karakter, keinginan, dan gaya belajar anak yang berbeda di kelas. Ada yang bersemangat, menonjol, cerdas, kritis,bertanggung jawab,  pengeluh, santai, bahkan selalu kebingungan atau kadang tidak tahu untuk apa harus belajar. Saya sangat menyadari bahwa setiap anak sangat berbeda. Tidak apa-apa karena kita semua sedang belajar sekarang.
Filosofi pendidikan yang ingin saya bagikan di sini adalah sebuah keyakinan. Saya percaya ketika Tuhan menciptakan seorang anak, bukan menggunakan sebuah mesin fotokopi (setiap anak memiliki kesamaan, seperti produk masal). Diatas kesadaran bahwa setiap anak memiliki potensi masing-masing, pikiran saya mengarahkan setiap anak selalu memiliki ide dan pemikiran yang berbeda.
Salah satu hal penting dalam pelajaran, adalah ide dan kreatifitas. Sebagai guru, saya memahami bahwa dari satu kelas pasti ada perbedaan karakter anak. Atas dasar hal tersebut saya menempatkan diri menjadi pelatih, bukan seorang “GURU” atau sumber belajar utama. Prinsip  pelatih adalah mendorong anak agar mencapai potensi yang optimal berdasarkan karakteristiknya.
Berbicara tentang ide dan kreatifitas sejujurnya setiap anak pastilah memiliki perbedaaan satu sama lain. Kalau ada karya anak yang “Copy & Paste” hati saya merasa trenyuh. Dalam pikiran saya, Tuhan yang sudah kreatif menciptakan setiap anak pasti juga akan merasa demikian. Seharusnya anak yang merupakan karya nyata Tuhan pasti memiliki ide dan karakteristik kaya dan unik seperti sidik jari kita yang berbeda dan unik.
Bagaimana dengan pendidikan ? Mengacu pada prinsip seorang pelatih, saya  berupaya membangun kemampuan dasar, karakter, strategi dan mental kuat tidak pernah menyerah saat menghadapi sebuah persoalan. Coba bayangkan dalam sebuah pertandingan sepakbola, seorang pelatih tidak akan bisa berbuat banyak untuk memenangkan pertandingan tersebut. Yang pasti berharap, berdoa, mengingatkan dan menyemangati itu saja yang dilakukan pelatih. Hasil dari pertandingan tersebut ditentukan oleh pemain itu sendiri. Mirip sekali dengan masa depan seorang anak, dia sendiri yang akan menentukannya kelak. Hidup yang berhasil atau gagal.
Apa hubungannnya ide dan kreatifitas dengan model pendidikan pelatih ? tugas utama guru yang memiliki jiwa pelatih adalah mengembangkan anak, bukan menciptakan fotokopi seorang guru sama persis seperti dirinya pada anak didiknya. Sungguh sangat merendahkan karya Tuhan pada anak, ketika seorang guru menghasilkan kualitas anak didik yang serupa dengan dirinya.
Tentu saja hal tersebut tidak mudah. Membangunkan ide dan kreatifitas anak bukan perkara gampang. Namun sebuah keyakinan bahwa anak-anak dari jaman ke jaman di masa yang akan datang seharusnya lebih hebat dari masa seorang guru itu sendiri. Saya percaya bahwa seorang anak  adalah bahan bakar yang sangat mudah terbakar, sehingga tugas guru hanyalah memantik dan menjaga api semangat pada anak didiknya , agar terus percaya dan yakin bahwa mereka memiliki ide dan kreatifitas yang luar biasa.
Pendidikan bukan mesin fotokopi adalah sebuah semangat bahwa seorang adalah sebuah bahan mentah yang bisa menjadi apa saja, bukan menjadikannya setiap anak memiliki standar yang sama dalam hidupnya.
Pasti saat upaya menemukan ide yang menghasilkan kreatifitas akan sering menemui kegagalan, bahkan kecewa dan frustasi. Saat usia belajar pada anak adalah kesempatan untuk menikmati kegagalan, untuk kemudian menemukan cara meraih keberhasilan. Ketika pendidikan mengejar angka-angka dan memiliki phobia pada kegagalan maka esensi dari belajar tersebut menjadi hilang. Tidak pernah gagal tidak akan pernah berhasil.
Mari kita renungkan, apakah kita menginginkan anak-anak menjadi sama satu lain ? seperti mesin fotokopi ? Sebagai pelatih mereka saya katakan tidak pada pendidikan dengan standar fotokopi. Saya hanya meminta “COBA SAJA, RASAKAN, GAGAL TIDAK APA-APA, LEBIH BAIK GAGAL SEKARANG DARIPADA GAGAL DISAAT KALIAN DIHARAPKAN BERHASIL DI MASA YANG AKAN DATANG”.